Iklan Investor Pialang
Jumat, 20 April 2018 | 17:34 WIB

Transformasi dan Keriuhan Demokrasi

Selasa, 30 Juli 2013 / jejak / antara

OTDANEWS.COM, Jakarta - Perjalanan demokrasi di Indonesia sejak era reformasi 1998 tak pernah terbayangkan sebelumnya dapat berjalan begitu terbuka seperti saat ini.

Siapa pun bisa menyampaikan pikiran, pendapat, dan mengekspresikan sikap dan perilakunya dalam berbagai bentuk.

Dalam masyarakat Indonesia yang majemuk dengan segala kompleksitas persoalan, dinamika demokrasi berlangsung secara leluasa bahkan tak jarang saling berbenturan karena perbedaan kepentingan. Kondisi itu membuat Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Sidharto Danusubroto prihatin atas praktik demokrasi di Indonesia yang terlalu riuh atau hingar bingar "Keriuhan demokrasi sudah memprihatinkan," kata Sidharto dalam tausyiah politik kebangsaan dan kenegaraan menjelang berbuka puasa bersama di Pusat Pengkajian Strategi Nasional (PPSN) Jakarta, Selasa (23/7).

Ketua MPR memandang perlu kajian soal praktik demokrasi yang "noisy" namun tak mungkin kembali lagi ke era prareformasi.

Sebenarnya apa kabar demokrasi di Indonesia? Bila diamati secara seksama, demokrasi di Indonesia sedang terus bertransformasi. Meminjam istilah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat berpidato pada penganugerahan "World Stateman Award 2013" dari Appeal of Conscience Foundation (AoCF) di New York, AS, pada 30 Mei lalu bahwa demokrasi di Indonesia tetap merupakan satu proses berkelanjutan.

Pada awal transisi 15 tahun yang lalu, Indonesia mengalami krisis multidimensi akibat keruntuhan ekonomi, ketidakstabilan politik. kerusuhan sosial, separatisme, konflik komunal, kekerasan antaretnis, terorisme. Situasi sedemikian parahnya sehingga Indonesia diprediksi akan menjadi Balkan yang baru, hancur berkeping-keping, kata Kepala Negara.

Namun bangsa Indonesia dengan gigih menantang skenario kehancuran tersebut dengan menyelesaikan permasalahan satu per satu seperti menyelesaikan konflik separatisme di Aceh yang telah berlangsung selama 30 tahun, mengembalikan stabilitas politik dan ekonomi, menegakkan hukum, memperkuat institusi demokrasi dan mewujudkan masyarakat madani, memperbaiki citra bangsa di luar negeri dengan politik bebas aktif, serta mengatasi diskriminasi.

Indonesia pun kemudian sering disebut sebagai salah satu kisah transformasi yang paling berhasil pada abad ke-21," kata Yudhoyono.

Bahkan Indonesia telah meruntuhkan beberapa mitos tentang demokrasi, termasuk mitos hubungan antara demokrasi dan pertumbuhan ekonomi. Beberapa dekade lalu Indonesia gagal memilih dua tujuan penting, "apa banyak demokrasi tapi pertumbuhan ekonomi rendah atau pertumbuhan ekonomi tinggi tapi sedikit kebebasan politik".

Jaga dinamika Pemerintah berhasil menjaga dinamika demokrasi yang makin kuat seusai reformasi dan pertumbuhan ekonomi terus membaik selepas krisis 1998. Indonesia mencapai demokrasi yang solid dengan tiga periode pelajaran 1999, 2004 dan 2009, dan pada saat yang sama pertumbuhan ekonomi sekitar enam persen.

Itu menunjukkan demokrasi dan pertumbuhan ekonomi dapat saling mendukung sehingga meruntuhkan mitos demokrasi untuk mengutamakan ekonomi dahulu atau kebebasan berdemokrasi.

Empat strategi pembangunan dari pemerintah yang meliputi propertumbuhan, propekerjaan, propengentasan kemiskinan, dan prolingkungan terimplementasi sehingga sangat mendukung penguatan demokrasi untuk berjalan seiring dengan pertumbuhan ekonomi.

Strategi yang ditunjang prinsip pertumbuhan yang berkelanjutan dan berkeadilan ini bertujuan untuk mempromosikan pembangunan ekonomi yang seimbang dan komprehensif.

"Pemerintah juga mempromosikan pasar domestik yang tahan dan vibran. Strategi ini efektif tetap menjaga perekonomian Indonesia dari pelemahan ekonomi dunia," kata Presiden.

Runtuhkan mitos Indonesia juga meruntuhkan mitos bahwa demokrasi dan Islam tidak bisa berjalan bersama. Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia telah membuktikan bahwa demokrasi dapat berjalan beriringan dengan Islam. Indonesia juga melakukan berdasarkan kemampuan untuk memastikan bangsa Indonesia yang terdiri atas ratusan kelompok etnis, serta semua umat beragama- Muslim, Kristiani, Hindu, Budha, Konghucu, dan kepercayaan lainnya-dapat hidup berdampingan dalam kebebasan dan persaudaraan.

Saat ini, Indonesia memiliki lebih dari 255.000 masjid, lebih dari 13.000 pura Hindu, sekitar 2.000 kuil Budha, dan lebih dari 1.300 kuil Konghucu, serta lebih dari 61.000 gereja, lebih banyak dibandingkan di Inggris Raya atau Jerman.

Banyak tempat ibadah itu dapat ditemui di sepanjang jalan yang sama. Di lingkungan eksternal, Indonesia juga terus menjadi kekuatan bagi perdamaian dan kemajuan.

Selain itu, Indonesia telah mematahkan pemikiran bahwa demokrasi membutuhkan kelas menengah yang banyak. Presiden memaparkan, saat pertama kali Pemilu multipartai pada 1999, kelas menengah Indonesia relatif kecil, sekitar 25 persen dari seluruh populasi atau sekitar 45 juta orang. Dalam dua kali Pemilu berikutnya yakni pada Pemilu 2004 dan Pemilu 2009, para pemilih secara konsisten tinggi, rata-rata 77 persen, angka pemilih tertingi di dunia di antara negara-negara demokrasi terbuka.

"Itu artinya antusiasme untuk berdemokrasi tinggi di seluruh tingkatan masyarakat, baik kaya, kelas menegah dan yang miskin," kata Presiden Yudhoyono.

Indonesia juga meruntuhkan mitos bahwa demokrasi akan menghancurkan persatuan. Saat krisis terjadi lalu muncul reformasi, banyak kalangan yang mengatakan Indonesia akan menjadi seperti Balkan, runtuh dan bercerai berai. Namun kenyataannya, demokrasi justru telah mengikat Indonesia yang majemuk lebih kuat dari sebelumnya.

Tantangan Pemerintah tidak menutup mata bahwa saat ini Indonesia masih tetap menghadapi sejumlah tantangan. Kantung-kantung intoleransi tetap ada, konflik komunal terkadang masih mudah tersulut, sensitivitas keagamaan kadangkala menimbulkan perselisihan, kelompok-kelompok masyarakat tertentu mengambil tindakan secara sepihak, riak radikalisme masih tetap ada.

"Hal ini, saya yakini, bukan merupakan permasalahan yang hanya dihadapi oleh Indonesia, tetapi merupakan fenomena global," kata Presiden.

Untuk itu, Indonesia terus berbenah. Pemerintah mengakui masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan, harus terus memajukan transformasi Indonesia seraya mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut.

Indonesia tampaknya tak bisa lepas dari jati diri bangsanya yang memiliki kekhasan bila dibandingkan banyak negara lain di dunia. Indonesia memiliki Pancasila sebagai dasar negara, pandangan hidup sekaligus cita-cita bangsa Indonesia, yang berfungsi mengokohkan berdirinya negara Indonesia, dan penunjuk arah tujuan bangsa Indonesia, serta diterimanya Pancasila sebagai dasar negara yang mengatur ketatanegaraan bangsa Indonesia.

Di dalam Pancasila sudah terkandung demokrasinya bangsa indonesia yaitu "kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan". Sila keempat inilah yang menjadi demokrasi bangsa indonesia, berbeda dengan demokrasi yang berpedoman pada dunia barat, yang menghendaki pemilihan kepemimpinan dari kaum mayoritas.

Di dalam tujuan demokrasi harus mencerminkan Pancasila sila ke-5 yaitu "keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia", dan untuk mewujudkanya, maka haruslah menjalankan amanat dari sila ke-2 sampai sila ke-3, dengan berlandaskan pada sila ke-1 "Ketuhanan Yang Maha Esa".

Bung Karno telah mengingatkan bahwa "Bangsa Indonesia harus mempunyai isi-hidup dan arah-hidup. Kita harus mempunyai levensinhoud dan levensrichting. Bangsa yang tidak mempunyai isi-hidup dan arah-hidup adalah bangsa yang hidupnya tidak dalam, bangsa yang dangkal, bangsa yang cetek, bangsa yang tidak mempunyai levensdiepte sama sekali. Ia adalah bangsa penggemar emas-sepuhan, dan bukan emasnya batin. Ia mengagumkan kekuasaan pentung, bukan kekuasaan moril. Ia cinta kepada gebyarnya lahir, bukan kepada nurnya kebenaran dan keadilan. Ia kadang-kadang kuat tetapi kuatnya adalah kuatnya kulit, padahal ia kosong-melompong di bagian dalamnya".

Saatnya, demokrasi di Indonesia tumbuh semakin sehat dan mencerminkan kedaulatan rakyat, bukan asal riuh.

Dibaca : 1140 kali
Baru dibaca Terpopuler
SIGNUP FOR NEWSLETTER