Iklan Investor Pialang
Jumat, 15 Desember 2017 | 09:35 WIB

Mengenang Jenderal Besar TNI (Purn) Abdul Haris Nasution

" Pegang Teguh Kejujuran, Kebenaran dan Keadilan Tokoh militer ternama, Jenderal Besar TNI (Purn). Abdul Haris Nasution, dikenal sebagai seorang pahlawan nasional. Ia salah satu tokoh yang menjadi sasaran dalam peristiwa (Gerakan 30 September 1965), namun yang menjadi korban adalah putrinya Ade Irma Suryani Nasution dan ajudannya, Lettu Pierre Tendean. "

Kamis, 19 September 2012 / jejak

 

Abdul Haris Nasution, lahir di Kotanopan, Sumatera Utara, 3 Desember 1918 – meninggal di Jakarta, 6 september 2000 ( pada umur 81 tahun)  sebagai ahli perang gerilya. Pak Nas, demikian sebutannya, dikenal juga sebagai penggagas dwifungsi ABRI. Orde Baru yang ikut didirikannya (walaupun ia hanya sesaat saja berperan di dalamnya) telah menafsirkan konsep dwifungsi itu ke dalam peran ganda militer yang sangat represif dan eksesif. Selain konsep dwifungsi ABRI, ia juga dikenal sebagai peletak dasar perang gerilya. Pak Nas, selain tokoh militer, yang begitu banyak merintis dan memberikan kontribusi bagi TNI. Namun di luar itu masih banyak contoh keteladanan Pak Nas yang dapat diambil dalam kesehariannya.  

Majalah Otda Indonesia mewawancarai Herianti Saharah Nasution putri sulung Pak Nas, berikut ini petikan hasil wawancaranya :

Bapak  (alm). Jend. Abdul Haris Nasution merupakan salah seorang putra bangsa Indonesia  yang terkenal dan mendunia prestasinya di  militer (dikenal sebagai peletak dasar perang gerilya di dunia militer). Bagaimana kegiatan  Pak Nas  kesehariannya ?

Bapak  itu seorang militer,  cita-citanya sejak masa kecil memang tujuannya ingin menjadi militer. Beliau  sangat disiplin dan konsekuen. Kegiatan kesehariannya  sangat disiplin,  apalagi bangun pagi, lalu  kesekolah,  beliau terus menjaga kesehatannya.  Bapak menjaga kedisplinan itu  dan itu dilakukan sampai beliau di akhir hayatnya. Utamanya  aturan pola makanan. Perlu di ingat,   Bapak  itu  orang Sumatera, beliau tidak pernah makan- makanan bersantan, biasanya orang Sumatera itu,  suka makanan bersantan.  Kenyataannya Bapak lebih suka makanan Khas Jawa Barat.Pernah saya tanya kenapa lebih suka makanan yang dari menu khas Jawa barat ?,  jawab Bapak singkat  makanan itu yang sehat. Disamping itu kebiasaan Bapak banyak membaca dan hidup teratur. Dalam hidupnya, banyak di isi  hal-hal yang berguna yang mungkin saya saja sebagai anaknya susah mengikuti beliau.  Saya ingat betul, Bapak  lebih banyak mengisi ke sehariaannya ke bidang  spiritual. Dengan mencontohkan keteladanan Nabi Muhammad SAW.

Bisa diceritakan bu Yanti panggilan akrab Herianti Saharah Nasution, Pak Nas  mendidik anak-anaknya ?

Pak Nas, mempunyai  anak  dua. Saya (Yanti)  dan (alm) Ade Irma,  umur saya dan Ade agak jauh beda.  Takdir memanggil Ade dipanggil Sang Khalik, tinggal  saya sendiri.  Pak Nas sangat perhatian terutama terhadap masalah kesehatan. Tak lupa juga Pak Nas selalu mengingatkan kami mengerjakan  sholat lima  waktu. Meskipun dalam keseharian beliau sibuk tapi beliau tidak pernah melupakan kami baik di rumah maupun aktivitas kami. Tugas dimana pun Pak Nas  selalu menceritakan apa yang beliau alami sehingga saya tahu perjalanan bapak. Kalau beliau pergi sama saya di tempat-tempat yang bersejarah, bapak menceritakannya. Saya selalu diberi support oleh beliau. Beliau selalu memberikan buku kepada saya kalau beliau mendapatkan buku dari orang lain. Untuk dipelajari dan diambil hikmahnya.  Saya bersyukur kepada Allah SWT,  kedua orang tua saya tidak pernah berkata kasar, berkelahi di depan saya, itu bagi saya suatu hal yang saya betul-betul berterima kasih kepada Allah SWT. Jadi, beliau menanamkan kepada saya nilai spiritual dan nilai kesederhanaan.

Ketika menjadi pejabat Negara, dalam kesehariannya Pak Nas apakah sering menggunakan fasilitas Negara ?

Bapak tidak pernah menggunakan fasilitas Negara, tapi saya lihat  sekarang boleh menggunakan fasilitas negara. Jadi selama ayah saya itu menjabat saya tidak pernah menggunakan fasilitas Negara, dan  meminta ini serta itu untuk bersenang-senang. Saya  ingat betul ketika  ikut diajak  Pembebasan Irian Barat, tidak pernah difasilitasi sarana kemewahan dan bahkan ketika Bapak ke Bali sekalipun tidak  ada waktu berwisata. Saya jalan kaki atau menggunakan kendaraan umum apabila ada keperluan baik belanja maupun sekolah. Pak Nas itu kalau dinas keluar negeri,  tidak pernah bawa oleh-oleh.  Kami  tanya kok bapak tidak bawa oleh-oleh? Beliau bilang , tidak boleh karena itu pakai uang negara bukan pakai uang pribadi. Ajaran itu terus beliau terapkan hingga saya dewasa, kalau uang negara itu tidak boleh. Jadi betul-betul konsekuen, jadi kedua orang tua saya sangat konsekuen sekali. Saya kadang-kadang iri, kalau  melihat teman-teman  menggunakan fasilitas  Negara, sedangkan orangtua saya tidak boleh.

Sebagai anak  Pak Nas, bagaimana Ibu Yanti melihat sosok Pak Nas?

“Bapak idola saya”

Sejak kecil, pernah kami  dengar  ada gangguan pada jantung Pak Nas yang dialaminya. Bisa Ibu, ceritakan dan  bagaimana pula Pak Nas mengatasi gangguan jantung tersebut?

Memang benar,  Pak Nas mempunyai gangguan kesehatan, yaitu mengalami bocor jantung beliau ketahui saat beliau masuk Akademi Militer  berumur 21 tahun. Karena beliau sangat disiplin menjaga kesehatan dan utama pola makan teratur.

Bagaimana beliau bisa bertahan saat beliau mengetahui bocor jantung ketika itu, ?

Kedisplinan beliau saya kira. Memang waktu itu bapak pernah sakit, tetapi dokternya bilang ini hanya kuasa Tuhan sampai beliau bisa bertahan. Beliau waktu badannya sudah biru itu diperkirakan sudah tidak tertolong  lagi, tapi beliau masih lama hidup sesudah itu. Itu karena Kuasa Tuhan.

Semasa hidupnya beliau kerapkali mendapatkan perlakuan yang kurang patut, khususnya dari pemerintah (seperti ketika dikucilkan dan dianggap sebagai musuh politik di zaman orba). Bagaimana Ibu Yanti melihat Pak Nas dalam mengatasi hal ini?

Beliau itu mungkin susah dari yg didapat orang sekarang ya. Beliau itu tidak punya rasa dendam yang ada di hati beliau siapapun yang menjadi pemimpin yang beliau dambakan hanya jujur dan adil. Beliau itu tidak pernah sakit hati. Karena saya tau waktu beliau diturunkan menjadi Ketua MPR  beliau hanya nonton di TV dan kami lihat lho kok!  Ayah diam aja, lalu beliau menjawab buat apa. Ayah diam ya tetap bekerja, kami bertanya-tanya ketika itu.  Orang yang telah menyakiti beliau, beliau tetap minta maaf lebih dulu. Setiap hari raya itu beliau kirim surat minta maaf, beliau bilang bahwa surat itu tidak diterima atau tidak dimaafkan itu urusan orang itu. Tapi beliau tetap berjuang bagaimanapun untuk benar. Dan beliau tidak pernah ada kata-kata jelek . Bapak tidak pernah  menyakiti orang.

Dibelakang seorang pria hebat, ada wanita hebat. Bagaimana peran istri Pak Nas, Ibu Johana, dalam hidup Pak Nas?

Saya kira itu tidak mudah. Ibu saya dari Suku Jawa, orang Surabaya yang sifat keluarganya juga keras. Saya kira bapak bersyukur dapat  Ibu karena ibu itu punya kepribadian sendiri seandainya bapak dapat istri yang lemah gemulai sulitlah karena ayah saya itu orangnya halus, malah kebalik orang batak itu kan keras, justru Ibu yang keras. Ketika peristiwa G 30 S/PKI, kalau Ibu saya tidak kuat juga mungkin ayah saya tidak tertolong. Ibu tetap semangat. Kesehariannya  Ayah itu sangat sederhana. Jadi kesederhanaan ayah itu bisa diikuti oleh mama. Bahkan ayah melarang mama tidak boleh beli barang mewah. Ibu saya kadang menjahit baju Ayah. Waktu Ayah,  sebagai Staf Kepala Angkatan Darat, saya tau Ibu  harus menjual perhiasannya, saya tau itu semua. Dan itu ibu saya bisa hadapi. Karena ayah saya minta, semua uang yang masuk ke keluarga harus uang yang halal. Saya sangat bangga sama orang tua saya.

Kegiatan Ibu sangat peduli kegiatan sosial diseluruh Indonesia, meskipun mendapat tantangan beliau tetap berbuat karena prinsip beliau bekerja untuk Tuhan. Alhamdulillah, Panti Husada Mulya untuk rumah tidak mampu yang diperuntukkan kepada, anak-anak terlantar, mundehealthcare children, anak2 cacat ganda, tuli bisu tetap berjalan. Sekarang ini, saya meneruskan apa yang telah ibu lakukan. Banyak penghargaan yang diterima Ibu, baik nasional maupun internasional. Pesan Ibu kegiatan social ini harus dijalankan.

Harapan Ibu Yanti kepada generasi penerus bangsa :

Kepada generasi muda sekarang harus dapat mengisi kemerdekaan.  Generasi muda sebagari generasi penerus bangsa, dapat menjalaknkan 4 Pilar Kebangsaan, yakni : UUD1945.Pancasila, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika.


 

Untuk menggali perjalanan dalam Tugas Militer Pak Nas, berikut ini Majalah Otda Indonesia menjumpai Letkol Nasika saat mendampingi Ibu Yanti ditempat yang sama.  Nasika menuturkan :

Pak Nas mewarisi jiwa Pak Soedirman dan Pak Urip Sumeharjo. Pak Nas, ketika Panglima Daerah, kemudian menjabat Kepala Staf Angkatan Darat, beliau ditunjuk sampai dua kali, tidak ada pejabat kepala staf AD yang dilantik sampai dua kali. Kecuali Pak Nas. Pak Nas juga  Kepala staf Angkatan bersenjata merangkap Menhankam, lalu  kemudian menjadi Ketua MPR.

Selama perjalanan beliau,  hal yang paling penting kita ambil  adalah “Jiwa Pejuang”. Jiwa kepejuangan itu untuk mandiri.  Setiap beliau ceramah kepemimpinan khususnya kepada para mahasiswa itu selalu ditekankan. Jadi setiap mahasiswa harus punya jiwa kepejuangan di dalam rangka bagaimana menghargai pengorbanan  para pahlawan .

Kita tau peran Pak Nas membela tanah air, waktu beliau Panglima Divisi Siliwangi memimpin bagaimana bergerilya menghadapi sekutu. Pengalaman-pengalaman itu dituangkan dalam suatu konsep perintah operasi kemudian di rumuskan oleh dewan.  Selanjutnya dilanjutkan TB. Simatupang akhirnya dibuat konsep operasi yang akhirnya waktu agresi militer II dijadikan perintah operasi sehingga semua konsep-tokoh operasi militer dari pemikiran Pak Nas. Sebetulnya,  para tokoh-tokoh militer saat itu hanya menambahkan sedikit-sedikit tapi sebagian besar dari pemikiran beliau akhirnya dibuat suatu buku menjadi buku “Pokok-Pokok Gerilya” yang dipelajari Negara lain.

Pengabdian Pak Nas kepada Ibu Pertiwi sangat banyak. Mungkin Majalah  Otda Indonesia ini tentang Otonomi Daerah, pada saat itu tahun 1950 periode beliau kedua saat menjabat  Kepala Staf AD, beliau menjabat dari tahun 1955-1962 pada saat periode kedua itu banyak gejolak di daerah-daerah dimana karena kepentingan daerah khususnya aspek pemerintahan yang mungkin melihat di pemerintah pusat banyak di dominasi atau mungkin orang-orang di sekeliling Presiden agak berbau kiri-kiri sehingga pemerintah daerah di sana kurang setuju.

Mungkin, pejabat-pejabat sekarang banyak menyisihkan untuk keluarganya, tapi beliau tidak. Semua diserahkan kepada departemen. Beliau tidak mempunyai saham atau apa. Banyak waktu itu manager-managernya kembali ke Belanda sehingga terjadi kekosongan maka diisi oleh para militer-militer yang mempunyai background dan pemikirannya luas tentang ekonomi.

Mungkin orang yang diberikan jabatan oleh beliau, anak keturunannya lebih kaya daripada anak beliau sendiri. Karena prinsip beliau memegang prinsip Sapta Marga. Sapta Marga disusun dari nilai-nilai agama, yakni membela kejujuran, kebenaran dan keadilan. Itu sangat beliau pegang.

Kenapa beliau dikucilkan pada jaman orde baru? Itu tidak terlepas daripada prinsip beliau,: kejujuran, kebenaran dan keadilan. Kebenaran, harus disampaikan apa adanya. Mungkin pada saat itu banyak hal yang ditutupi jadi kebenaran itu kurang muncul sehingga kebenaran yang disampaikan Pak Nas apabila diketahui oleh masyarakat mungkin banyak yang terkena. Oleh sebab itu diisolasi, karena kritik beliau itu. Sebetulnya kalau misalnya pada saat itu apa yang beliau sampaikan kebenaran itu didengar mungkin Indonesia tidak seperti sekarang.

Menurut  Nasika.  Pak Nas dan Ibu Johana sejalan. Sejalan dalam kepejuangan. Beliau saling membantu rakyat demi  kejayaan NKRI.

Pak Nas,  belajar intelijen dan politik Belanda yang kemudian beliau gunakan untuk mengabdi kepentingan rakyat bukan untuk kepentingan pribadi. Kalau beliau rakus dan tamak beliau punya kesempatan tapi tidak demikian karena beliau pegang prinsip kejujuran, kebenaran dan keadilan.

Strategi beliau yang juga diterapkan adalah beliau pelopor terbentuknya hansip (pertahanan sipil) dan menwa untuk ditingkat mahasiswa. Merupakan hasil pemikiran beliau dalam rangka mencegah dan menghadang masuknya politik asing yang mengancam kedaulatan NKRI.

Nilai yang paling utama beliau pegang dan beliau terapkan adalah nilai agama. Alhamdulillah bapak itu diterima oleh semua agama. Jiwa toleransi beliau sangat tinggi. Beliau juga banyak bergaul dengan tokoh-tokoh agama lain. Beliau bisa merangkulnya karena jiwa beliau benar-benar menerapkan ajaran rasulullah.

 


Riwayat Hidup Singkat Jenderal Besar Tni (Purn) Dr. A.H. Nasution


  • Nama                                    : Abdul Haris Nasution
  • Pangkat                                 : Jenderal Besar TNI
  • NRP                                      : 13619
  • Tempat/Tgl Lahir                   : Kotanopan (Tapanuli, Sumatera Utara), 3 Desember 1918
  • Agama                                  : Islam
  • Nama Istri                             : Yohana Sunarti Gondokusumo
  • Nama Anak                          : - Hendrianti Zaharah   - Ade Irma Suryani (Alm)

Jabatan Terakhir

  • Militer                                   : MENKO HANKAM/KASAB
  • Sipil                                      : Ketua MPRS

Pendidikan Umum

  • Sekolah Guru, Holland Inlands Kweekschool (HIK)
  • Sekolah Menengah Atas Algemene Middelbaare School B (AMS)
  • Akademi Militer, Koninklijke Militaire Academi (KMA)

Gelar Kehormatan

  • Tanda Kemampuan Staf dan Komando Kehormatan dari Seskoad
  • Doctor Honoris Causa dalam Ilmu Ketatanegaraan UISU Medan (1962)
  • Doctor Honoris Causa dalam Ilmu Politik Universitas Padjajaran, Bandung (1962)
  • Doctor Honoris Causa dalam Ilmu Negara, Universitas Andalas Padang (1962)
  • Doctor Honoris Causa dalam Ilmu Hukum, dari Mindanao State Unversity, Filipina (1971).

 

 

 

Dibaca : 21741 kali
Baru dibaca Terpopuler
SIGNUP FOR NEWSLETTER